27 Jun 2011

Sehat Sutardja Tak Kenal Menyerah

1 Comment Orang Inspirasional

Memang baru tiga kali kembali ke Indonesia setelah 31  tahun lalu terbang untuk belajar rekayasa eletronika dan komputer di Amerika. Namun, Sehat Sutardja tetaplah merasa menjadi bagian dari Indonesia.

Kali ini dia datang ke Jakarta bersama orang tua, istri dan anak pertamanya, sedangkan anak keduanya saat tidak dapat ikut serta karena tengah magang disebuah perusahaan elektronika di Amerika.

Sehat masih kerap kangen dengan makanan Jakarta, seperti ketoprak, ayam kalasan, soto betawi di belakang Harmoni, kwetiau di Pecenongan, dan sate dengan teriakan khasnya “satteee…” kata sehat sambil menirukan.

Sehat mengaku, memasuki bisnis semikonduktor bukanlah keinginannya dari awal. Ketertarikannya pada elektronika terbangkitkan saat dia, kakak perempuannya, dan orang tuanya di undang merayakan ulang tahun perkawinan kakeknya yang tinggal di Singapura. Tiga adik Sehat juga kebetulan bersekolah disana. Sehat kagum dengan adiknya, Pantas Sutardja. “Dia kelas 5 SD, tetapi baca buku fisika untuk SMA,” kenang Sehat yang saat itu baru berumur 12 tahun dan kelas enam SD.

Pantas menunjukkan dibuku itu pelajaran bagaimana membuatgenerator Van De Graaff yang dapat membangkitkan voltase listrik. Kakak beradik ini kemudian pergi ke toko terdekat dari rumah sang kakek, untuk membeli perlengkapan yang diperlukan. Dan “Berhasil,” ujar Sehat bangga.

Namun, Sehat harus kembali ke Jakarta untuk ikut ujian masuk SMP Kanisius. Di Jakarta, , Sehat terus berusaha menyempurnakan generator Van de Graaff agar lebih efisien, ukurannya lebih kecil, dan bisa dimasukkan kedalam kotak. “Jadi kalau ada orang yang buka kotak itu, pasti kaget,” cerita dia.

Berulang kali dia mencoba, tetapi itu hanya bisa bertahan beberapa menit. Kabel tembaganya teroksidasi. Lalu, dia membeli buku dan disarankan memakai platinum. “Beli platinum di Jakarta?” kata Sehat. Dia lalu mencari buku-buku yang lain, dan ada yang mengajarkan harus memakai transistor.

Karena tak mengerti transistor, Sehat membeli majalah elektronika di toko buku kecil di bawah kantor Kompas di jalan Gajah Mada. Sehat meminta sang ibu untuk menterjemahkan isi majalah terbitan Hong Kong itu. “Terjemahannya bikin bingung, lari-lari, tapi saya terus beli majalah dan minta diterjemahkan Mama,” kenang Sehat.

Ketika akhirnya merasa mentok, dia berinisiatif ikut kursus membuat transistor. Awalnya datang ke tempat kursus  di Pasar Baru, tetapi batal sebab harus belajar tabung hampa dulu. Dia pindah kursus ke Pancoran. “Akhirnya tercapai keinginan belajar transistor,” ujar Sehat yang saat itu baru berusia 13 tahun.

Sasaran pertama Sehat adalah radio Phillips ayahnya yang tombolnya rusak. Bukannya kembali berfungsi, radio itu malah bertambah rusak. “Tiap hari malah diomelin papa,” kata sehat.

Sehat tidak kenal menyerah. Tiap pulang sekolah selama 2-3 jam dia mengutak-atik radio itu. Karena tak kunjung berhasil , dia lantas membeli majalah elektronik, kali ini terbitan Inggris. “Suaranya bagus, bagian lain juga tidak rusak. Selama setahun saya makin mengerti transistor dan terus baca majalah baru. Lama-lama juga punya perasaan kira-kira bagian mana yang harus diperiksa,” kenangnya.

Setelah satu setengah tahun, Sehat sampai pada momen “Ahaa..!” dan dia tahu  apa penyebab kerusakannya. “Ganti transistor Philips, tapi dimana cari penggantinya? Yang ada produk dari Jepang. Saya baca lagi buku-buku, kali ini dari Jepang.  Akhirnya radio itu bisa berfungsi lagi,” ujarnya sambil tersenyum.

Dia mengaku bertahan karena gengsi. “Sudah keluar uang banyak untuk beli buku dan majalah, saya juga jatuh cinta pada elektronik karena terus belajar selama 1,5 tahun. Saya tidak mau menyerah,” katanya.

Marvell Technology

Sang ayah sangat menginginkan Sehat menjadi dokter seperti anak tetangga yang tinggal di Jalan Kebon Jeruk. Namun, minat Sehat kukuh pada elektronika. Bahkan, sepulang sekolah saat mebantu menjaga toko ayahnya yang menjual  onderdil Mercedes di Jalan Hayam Wuruk No.97, dia terus membaca buku dan majalah elektronik.

Karena itu dia tahu revolusi elektronika yang terjadi di Amerika. Tekadnya sudah bulat untuk belajar elektronika disana. Sang ibu rupanya mendukung, dia mengumpulkan uang dan mengizinkan Sehat belajar ke Amerika.

Sang Ibu hanya mampu membiayai setahun pertama kuliahnya di Iowa State University. Sehat pun harus bekerja paruh waktu saat musim panas di IBM, untuk dapat membiayai hidup dan kuliahnya. Saat melanjutkan program master di Universitas California-Berkeley, Sehat menjadi asisten profersornya dan membuat riset untuk mendapat beasiswa melanjutkan program doktor. Di Amerika pula Sehat bertemu Weilie Dai, yang kemudian menjadi istrinya.

“Saat itu ada ratusan perusahaan baru, startup komputer di Silicon Valley. Setidaknya ada selusin perusahaan dimana saya bisa bekerja,” ujar Sehat tentang mengapa dia memilih tinggal di AS.

Selama 1,5 tahun Sehat bekerja di perusahaan kecil, Microlinear, yang memakai sistem analog, sebuah bidang yang merupakah keahlian dari Sahat. Namun tak dapat dipungkiri, bahwa dunia saat itu tengah berubah ke arah digital. Sehat pun kemudian pindah ke perusahaan kecil, Integrated Information Technology. Di perusahaan ini, dia bersama timnya berhasil menciptakan pertama kali chip yang memungkinan dilakukannya video conference. Chip ini kemudian dipakai oleh AT&T dan Sony.

Karena ingin dapat membuat keputusan sendiri dalam riset dan pengembangan, Sehat memutuskan membuat Marvell Technology bersama sang istri dan adiknya, Pantas, pada tahun 1995. Kini perusahaan itu telah memiliki 5.700 karyawan.

“Tidak pernah terpikir sebelumnya untuk masuk ke dalam bisnis. Perusahaan didirikan setelah pengalaman bekerja dan karena kami ingin membuat keputusan sendiri. Karena kami berpengalaman bekerja di perusahaan elektronik, kami jadi tahu kesalahan yang dibuat orang lain,” ujar Sehat.

Sumber : Kompas

written by
The author didn‘t add any Information to his profile yet.

One Response to “Sehat Sutardja Tak Kenal Menyerah”

  1. Reply LegeWoows says:

    Terima kasih untuk blog yang menarik

Leave a Reply