Berita Terbaru

Kumpulan berita terbaru dari Indonesia Setara Foundation

2017-01-20 at 16.38.29

ISF Kenalkan Reksadana kepada UKM

Investasi di pasar keuangan Indonesia sangat menarik imbal hasilnya. Sayangnya, jumlah investor pasar modal masih terbilang kecil dibandingkan negara lain. Oleh karena itu Indonesia Setara Foundation mengenalkan reksadana kepada para pelaku UKM.

Bekerja sama dengan Mega Asset Management, ISF menggelar acara Pelatihan Pengelolaan Usaha di Mall Metro Cipulir pada tanggal 17 Januari 2017. Dalam kegiatan ini, pelaku UMKM bersama-sama belajar mengenal jenis investasi dan bagaimana cara mengelola keuangan usaha yang tepat.

Erwino Joedanadi, pembicara dari Mega Asset Management terlebih dahulu memperkenalkan berbagai cara mengelola keuangan, “Banyak sekali bentuk pengelolaan keuangan atau kekayaaan misal yang ibu-bapak sudah ketahui seperti deposito, unit link, asuransi, reksadana ataupun saham, tinggal bagaimana bapak-ibu memilih mana yang cocok dengan bapak-ibu.”

Erwin menyatakan bahwa dibandingkan dengan investasi dalam bentuk tanah atau properti, reksadana lebih likuid, artinya gampang dijual dan dicairkan tunai sedangkan tanah atau properti memerlukan waktu relatif lama. Namun sebaliknya nilai tanah atau properti jarang sekali turun, sedangkan reksadana bisa naik dan turun dalam jangka relatif pendek. Erwin menyarankan untuk memilih reksadana pendapatan tetap bagi yang takut risiko. “Namun imbal hasilnya juga tidak tinggi,” imbuhnya.

Peserta acara yang merupakan pelaku UMKM terlihat antusias dengan acara yang berlangsung dua sesi ini. Terlihat dari banyaknya penanya yang ingin tahu bagaimana cara memulai investasi, ataupun investasi apa yang cocok dengan usaha yang sedang dijalani, adapula yang menanyakan mengenai perbedaan reksadana dengan pialang saham.

Pada sesi sebelumnya, kegiatan ini mengedukasi peserta mengenai pengelolaan keuangan. Pembicara menyatakan bahwa biasanya UKM tidak mengelola keuangan dengan baik sehingga keuntungan usaha terbelanjakan dan tidak sempat berinvestasi. Hal ini dialami juga oleh salah satu peserta. “Saya usaha udah lama dan udah punya karyawan, tapi kok uangnya abis mulu, ga ada untung yang dirasain,” ujar Ibu Heni seorang pengusaha konveksi.

Setelah ditelusuri, Ibu Heni ternyata tidak memisahkan buku keuangan keluarga dengan buku keuangan usaha. Biasanya pelaku usaha mencampurkan keduanya hingga uang hasil keuntungan tidak sadar telah terbelanjakan kembali. Untuk mengatasi masalah ini, Arifin Ihsan dari ISF menyarankan agar pelaku usaha bisa mempekerjakan siswa SMK atau saudara untuk tenaga akuntansi paruh waktu, sehingga keuntungan bisa terlihat dan bisa memulai untuk berinvestasi.

Sebagai penutup Erwino Joedanadi mengatakan, “Investasi mengandung risiko, gak investasi lebih berisiko lagi. Hidup itu pilihan, mau irit sampai mati atau biarkan duit bekerja. It’s your choice.”

img_6296

Biaya Umroh Dapat Teratasi dengan Pengelolaan Keuangan yang Baik

Sebagian besar peserta pengajian umumnya memiliki tujuan ingin melaksanakan umroh. Hal ini juga dialami ibu-ibu majelis ta’lim Duri Kepa Kebon Jeruk, ketika ditanya siapa yang belum umroh, hampir sebagian besar mengacungkan tangan. Seketika trainer dari ISF bertanya, “Kenapa, Bu belum bisa umroh?” Beberapa orang mengeluhkan bahwa pendapatannya tidak cukup untuk bisa menabung. “Pendapatan ibu cuma dari pensiunan, suami juga ga punya, gimana mau nabung buat umroh,” keluh seorang ibu yang sudah memiliki keinginan untuk umroh namun belum juga tercapai. Hal ini terungkap pada pelatihan yang diadakan Sabtu, 24 Desember 2016.

Acara yang diawali dengan pengajian itu berlangsung meriah, sekitar 60 orang datang dengan tujuan yang sama, yakni dapat mengelola keuangan dengan baik untuk bisa pergi umroh. Antusiasme ibu-ibu majelis ta’lim Kebon jeruk ini sempat membuat trainer ISF kewalahan karena banyak yang bertanya apakah cara pengisian modul yang dibagikan sudah benar.

Beberapa peserta mengeluhkan bahwa pengeluarannya sangat besar dan pendapatannya kecil sehingga tidak bersisa uang untuk menabung. “Pada kenyataannya apakah ibu benar-benar defisit dan harus berhutang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari?” trainer ISF menanyakan untuk memastikan apakah keuangannya benar-benar defisit atau ada pengeluaran yang tidak diketahui karena tidak tercatat. Website link Bahwasanya bukan pengeluaran yang terlalu banyak sehingga tidak bisa menabung tapi karena pemasukan dan pengeluaran tidak dicatat sehingga tidak jelas hilangnya ke mana.

“Inilah pentingnya mencatat pemasukan dan pengeluaran ibu-ibu, selain agar kita tahu ke mana masuk dan keluarnya uang, itu juga bisa menjadi acuan apa saja yang benar-benar menjadi kebutuhan dan apa saja yang hanya menjadi keinginan. Keinginan-keinginan yang kurang penting bisa kita hilangkan dan uangnya kita tabung untuk berangkat umroh,” jelas Arifin dalam sesi terakhir pelatihan.

20161218_141420

Pelatihan Keuangan Keluarga Dibutuhkan Semua Kalangan

Selama ini kami menyediakan pelatihan keuangan keluarga untuk UMKM maupun kalangan menengah ke bawah yang memang sama sekali awam dengan manajemen keuangan, dengan harapan mereka dapat mengerem pengeluaran dan bisa menabung. Minggu kemarin (18/12) kami mendapatkan kesempatan kedua untuk melatih para karyawan yang sudah memiliki rencana keuangan, tabungan, asuransi bahkan investasi.

Meski sudah akrab dengan produk keuangan, mereka menyadari bahwa langkahnya masih sepotong-potong. Peserta yang terdiri dari pasangan baru, beranak satu sampai dua telah mengenal lembaga-lembaga keuangan, mereka sudah memiliki rekening bank yang digunakan untuk memudahkan transaksi. Namun ini sebatas pengguna karena memang sering digunakan di kantor.

Sebagian peserta baru menyadari bahwa banyak pengeluaran kecil yang akhirnya menyita saldo keuangan. Pada saat menghitung pendapatan dikurangi pengeluaran, kebanyakan bersaldo namun seingat mereka tidak sebesar itu saldonya. “Ini saldo, tapi kok ga ada uangnya,” celetuk salah satu peserta. Trainer kemudian membantu mengingat pos apa yang belum ditulis.

Ada juga peserta yang baru memulai usaha yang belum genap satu tahun. Modalnya berputar terus dan tercampur dengan keuangan pribadi. Oleh karena itu saat diberi Pelatihan Keuangan Keluarga baru menyadari bahwa keuangan usaha dan keuangan keluarga tercampur menjadi satu dan membuat bingung saat mengisi pemasukan dan pengeluarannya. “Lah kok ini lebih tapi kok saya ga ngerasa ada lebih?” kata seorang peserta yang baru menyadari bahwa pengelolaan keuangannya masih perlu diperhatikan.

Para peserta baru ngeh mengenai pengelolan keuangan pada sesi perencanaan tujuan keuangan. Selama ini mereka merasa berat untuk menggapai tujuan-tujuan keuangan yang membutuhkan dana besar. Pertama, para peserta diajak untuk mengetahui apa tujuan keuangan keluarga mereka. Setelah itu mereka menuliskan besarnya dana yang dibutuhkan. Langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah yang harus ditabung tiap bulannya.

“Ternyata gampang ya kalau mau umroh, tinggal ilangin biaya beli internet beberapa bulan aja bisa tuh umroh,” ujar salah satu peserta pelatihan dengan antusias saat sedang menghitung berapa biaya yang harus ia tabung untuk merealisasikan tujuan keuangan keluarganya. Ia merasa pelatihan yang ISF gelar sangat bermanfaat menyadarkan dirinya bahwa dengan pendapatan yang ia miliki sekarang seharusnya ia bisa merealisasikan banyak tujuan keuangan atau mimpinya.

a

Belajar Berbisnis Sebelum Buka Bengkel

Untuk membuka bengkel, keahlian teknik saja belum cukup. Keahlian teknik bisa mengantarkan seseorang menjadi mekanik atau montir. Sedangkan untuk membuka bengkel, banyak faktor yang harus dimiliki. Diantaranya adalah kemampuan untuk mengelola bisnis.

Oleh karena itu Yayasan Mitra Pinasthika Mustika (YMPM) yang memiliki Program Life Skill Training Centre (LSTC) yaitu program pemberian pelatihan otomotif dan pengenalan dunia kerja yang diberikan oleh instruktur-instruktur otomotif perusahaan, mengundang Indonesia Setara Foundation (ISF) untuk memberikan pengetahuan bisnis pada peserta LSTC yang sudah diedukasi mengenai otomotif selama tiga bulan.

Maka pada Kamis, 15 Desember 2016 kami berbagi pengetahuan bisnis kepada 11 peserta yang datang dari berbagai kota. Pihak YMPM memang membatasi peserta karena keterbatasan ruangan training yang berada di wilayah Pondok Kelapa Jakarta Timur.

Para peserta LSTC ini dilatih secara khusus untuk menguasai teknik permesinan sepeda motor. Menurut penjelasan para instruktur, mereka juga telah mempelajari hampir semua bagian dalam mesin berteknologi injeksi. Karena basic peserta di bidang otomotif maka tujuan dari digelarnya acara ini adalah supaya peserta bisa membangun bengkel usai pendidikan.

ISF membimbing peserta untuk mengetahui tentang Business Model Canvas, yaitu sebuah template awal untuk membuat bisnis. “Biasanya materi ini diajarkan ke anak manajemen, tapi setelah belajar ini belum tentu mereka membuat bisnis, kalau kalian ‘kan jelas mau bikin bengkel,” terang Nanang, Direktur Eksekutif ISF yang langsung memberikan materi pada peserta.

Pasa sesi ini peserta diajak untuk membangun bengkel sesuai kebutuhan konsumen. “Banyak orang membuka bengkel tapi hanya sekedarnya, padahal bengkel ini bisnis layanan. Yang paling utama adalah apa beda bengkel Anda dengan bengkel sebelah dan bagaimana konsumen tahu bahwa bengkel Anda itu beda.” Tiga jam sesi bisnis ini digunakan untuk membahas hal tersebut, sehinga peserta betul-betul paham mengapa bengkel itu harus punya keunggulan dalam pelayanan dan menemukan model bisnis yang sesuai dengan sumber daya dan kebutuhan pasar.

Para peserta terlihat antusias baik dalam sesi tanya jawab maupun dalam sesi kelompok. Hal itu dipicu rasa ingin tahu yang besar terhadap bisnis. Lazimnya anak muda, semangat yang ditunjukkan sangat besar karena mereka punya mimpi untuk membangun bengkel. “Ini mau saya fotokopi trus kirim ke kampung biar pada tau saya punya mimpi,” ujar salah seorang peserta yang sudah selesai mengisi template BMC yang dibagikan.

Setelah materi selesai, peserta kemudian berkelompok untuk menyelesaikan suatu permasalahan, “Bagaimana kalian akan membuat bengkel kalau saya hanya memberikan 10 kaleng oli sebagai modal?” Nanang menantang para peserta pelatihan untuk melihat peluang apa saja yang bisa didapatkan dari 10 kaleng oli dalam waktu 15 menit kemudian masing-masing kelompok kecil mempresentasikan hasil pemikiran mereka.

Pemateri menyampaikan bahwa Indonesia Setara Foundation siap untuk membantu bisnis bengkel para peserta training, hal ini sejalan dengan misi ISF dalam pemberdayaan UMKM. “Nanti kalau sudah buka kasih tahu ya,” ujar pemateri.

20161214_194602

Sandi Uno Berbagi Ilmu Bisnis di Tiberias

Jumat malam (18/12) pendiri Indonesia Setara Foundation diundang untuk berbagi ilmu bisnis oleh Komunitas Tiberias di Mall of Indonesia dalam sebuah Seminar Entrepreneurship. “Saya senang sekali diundang untuk acara seminar seperti ini. Kita ini masih kekurangan pengusaha,” demikian Sandi mengawali sharingnya.

Kurangnya pengusaha menjadikan negara kita tidak bisa bersaing di era globalisasi ini. Akhirnya kita hanya jadi pasar bagi para pengusaha dari luar negeri. Indonesia ini pangsa pasar yang besar sekali namun kita tidak mampu memanfaatkan peluang ini. “Negara dengan panjang garis pantai terpanjang ketiga di dunia masih mengimpor garam,” ungkap Sandiaga bersedih.

Memang tidak mudah untuk menjadi seorang pengusaha. Banyak orang tidak berani mengambil risiko untuk dan hanya bertahan pada zona nyaman hidupnya saja, lulus sekolah atau kuliah impian terbesar kebanyakan orang adalah bekerja di perusahaan besar. Tapi bekerja itu juga ada resikonya. “Saya aja kena PHK,” lanjutnya.

“Saya menjadi pengusaha karena terpaksa. Tapi saya bersyukur akhirnya bisa memperkerjakan ribuan orang. Makanya saya selalu anjurkan orang untuk berwirausaha tanpa menunggu di PHK.” Menjadi pengusaha berarti membantu diri sendiri dan orang lain sekaligus membantu pemerintah.

Sandiaga S. Uno memang pengusaha sukses di Indonesia. Banyak orang yang menginginkan posisi sepertinya, namun banyak yang tidak tahu pengalaman jatuh bangun yang telah dilaluinya.

Dalam seminar ini Sandi menyatakan dirinya sering mengalami kegagalan. Pada para peserta seminar Sandi mengatakan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, banyak orang yang berpikir bahwa perjalanan bisnisnya mulus, tapi kenyatannya tidak seperti itu, “Saya melewati banyak kegagalan untuk mencapai sukses,” ujar Sandi saat mengingat bagai mana jatuh bangun usahanya sebelum sesukses sekarang.

Dalam seminar ini pula Sandi mengajak para peserta mulai melakukan wirausaha dan tidak terpaku untuk mengejar karir sebagai karyawan, “Indonesia butuh wirausaha. Dengan menjadi wirausaha sama saja kita membuka lapangan pekerjaan, menggerakan akar ekonomi, dan memberdayakan ekonomi akar rumput. Jangan mau sukses sendirian, dengan membuka usaha kita mengajak orang lain untuk sukses bersama.”

Sandi membagi tiga tips untuk menjadi entrepreneur sukses, “Yang pertama miliki mimpi, usaha seperti apa sih yang ingin kita buat dan kita kembangkan. Kedua Perluas wawasan dan bangun jaringan, kita harus cerdas menghadapi apapun dan perluas jaringan bisnis, banyak berteman untuk membangun koneksi. Dan yang ketiga Keluar dari zona nyaman dan pantang menyerah sekarang juga. Saya sudah kasih tahu bagai mana caranya saya bisa seperti ini, tinggal kalian memulai. Kapan? Sekarang! Jangan mudah menyerah dan takut gagal.”

pelatihan-marketing-online

Semangat Para Pemilik UKM Belajar Berjualan Online

Perkembangan teknologi di Indonesia meningkat pesat seiring berjalannya waktu. Teknologi tercipta dengan tujuan untuk mempermudah masyarakat melakukan aktivitas, salah satunya proses jual beli. Sekarang ini konsumen lebih menginginkan proses jual beli yang praktis dan mulai meninggalkan proses tradisional, banyak yang berpikir berbelanja secara online adalah pilihan yang tepat. Oleh karena itu pemilik UKM sudah seharusnya dapat mengikuti perkembangan teknologi. Namun tidak semua orang dapat beradaptasi dengan pembaharuan teknologi bahkan sama sekali asing.

Berangkat dari permasalahan ini ISF mengadakan sebuah pelatihan bagi para pemilik UKM untuk belajar berjualan online. Melihat dari banyaknya pengguna smartphone dan media sosial, dipilihlah Facebook dan Instagram sebagai media yang paling banyak digunakan. Oleh karena itu dalam acara yang diadakan pada hari Selasa 13 Desember 2016 tepatnya di aula lantai 2 Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk Gandaria Tengah ini, pemateri memberikan langkah demi langkah membuat fanpage Facebook dan Instagram untuk produk yang dimiliki UKM.

Sekitar 100 pemilik UKM yang merupakan angora Wanita Pengusaha Mandiri Indonesia hadir dan dengan antusias mengikuti jalannya acara. Masing-masing pemilik UKM mengeluarkan smartphone mereka untuk mengikuti arahan pemateri. Tak ingin pelatihannya sia-sia, beberapa orang maju menghampiri pemateri untuk memastikan apakah langkah yang sudah dilewati benar dengan tujuan ketika pelatihan selesai peserta sudah memiliki fanpage Facebook dan Instagram yang memudahkan proses jual beli mereka.

Setelah fanpage Facebook dan Instagram UKM selesai dibuat, peserta juga diberikan kiat-kiat untuk costumer relationship oleh Musa. Bagaimana seharusnya UKM menangani pembeli yang bertanya secara online, “kalau ada yang nanya-nanya banyak jawab aja, mungkin dia mau beli seratus buah makanya nanya ini ada ga? Itu ada ga? Pembeli itu adalah raja, calon pembeli juga raja, jangan malah dijutekin,” Musa memberikan sedikit pengalamannya mengenai costumer yang banyak bertanya.

Musa juga memberikan tips pada para pemilik UKM agar memilih kata yang tepat untuk menangani customer, “Jangan pernah bertanya Ibu jadi beli ga? Bisa jadi jawabannya ‘ga’. Bertanyalah ibu mau beli warna biru atau putih? Jadi pilihan yang kita berikan tetap menujukan customer untuk membeli.” Statement itu menyadarkan pemilik UKM bahwasanya pilihan kata yang tepat dapat juga membantu penjualan secara online.

Pemilik UKM terlihat bersemangat untuk belajar berjualan secara online, ketika sesi tanya jawab berlangsung lebih dari lima orang mengangkat tangan untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Acara yang seharusnya selesai sebelum jam makan siang itu pun berlanjut hingga hasrat bertanya pemilik UKM terpenuhi.

whatsapp-image-2016-12-14-at-08-19-43-1

Antusiasme Ibu-ibu Pulo Gebang Membuat Kerajinan dari Koran Bekas

Sampah memang masih menjadi permasalahan yang belum bisa terselesaikan, terlalu banyak sampai menumpuk dan mengganggu pemandangan. Salah satunya adalah koran, biasanya setelah dibaca koran hanya ditumpuk dan tidak digunakan lagi. Namun Ari Bekti Budi Hasuari memiliki solusinya, berangkat dari keisengannya dua tahun belakangan, sekarang Ari sudah memiliki usaha dari sampah koran bekas dan omzetnya sangat besar.

Melihat peluang ini, ISF yang memiliki program pemberdayaan perempuan menggelar sebuah pelatihan dengan Ari Bekti Budi Hasuari sebagai pematerinya. ISF dan wanita yang biasa dipanggil kak Ari ini melatih ibu-ibu di Pulo Gebang pada 9 Desember 2016 dengan tujuan agar ibu-ibu di sana memiliki usaha rumahan yang bisa dikembangkan dan menjadi tambahan pemasukan untuk keluarganya.

Acara yang dimulai pada pukul 16.00 WIB itu sudah dipenuhi oleh para peserta dari pukul 15.00 WIB. Ari yang komunikatif awalnya memberitahukan bahwa usahanya ini dimulai dari keisengan yang tidak sengaja kemudian pesanan per pesanan datang tanpa diduga. “Ini saya jual tiga ratus ribu, dan kalau sehari dikerjakan selama dua jam dalam tiga hari sudah bisa selesai. Pengerjaannya hanya memakan waktu enam jam. Lumayan sekali untuk menambah pemasukan.” Penjelasan Ari membuat ibu-ibu antusias untuk belajar membuat kerajinan, dilihat dari berpindahnya posisi duduk peserta yang tadinya duduk pada kursi di depan tempat acara menjadi duduk berkumpul di dekat Ari.

Yang tak kalah menarik adalah nenek Suryani yang berumur 72 tahun dengan semangat mengikuti setiap langkah yang diajarkan Ari. Bahkan ketika peserta lain sudah mulai kewalahan saat menganyam koran bekas yang telah dilinting, nenek Suryani dapat menyelesaikan satu buah keranjang yang kemudian ia isi dengan kue.

“Membuat kerajinan ini butuh ketelatenan, saya salut dengan nenek Suryani yang masih bertahan sampai kerajinan selesai. Semua butuh tekun dan telaten ya ibu-ibu.” Ari menyemangati ibu-ibu yang masih kesulitan membuat kerajinan meskipun dikerjakan secara berkelompok.

Dari acara yang diselenggarakan ISF ini ibu-ibu Pulo Gebang merasa termotivasi untuk membuat kerajinan dari kertas koran bekas. Melihat antusiasme dari ibu-ibu di Pulo Gebang, Ari yang memang sudah menyiapkan koran bekas yang telah dilinting membagikan hasil kerjanya pada ibu-ibu untuk berlatih menganyam di rumah. “Supaya semangat belajarnya ya ibu-ibu, biar nanti bisa punya usaha sendiri,” tambahnya yang sepanjang acara tersenyum melihat betapa antusiasnya ibu-ibu Pulo Gebang pada pelatihan yang ia pimpin.

9ce1a12e-7d7f-4431-bacb-116c716a992c

Magang Meningkatkan Kompetensi

Persaingan untuk mendapatkan kerja semakin hari semakin sengit, hal ini yang menyebabkan tingginya tingkat pengangguran di Indonesia. Berangkat dari kesadaran itu, Disnaker Kota Depok yang bekerja sama dengan festivalnyarikerja.com menggelar bursa kerja di Plaza Depok, dengan tujuan mengurangi jumlah pengangguran di Kota Depok. Dari acara yang dua hari digelar pada tanggal 29-30 November 2016 itu ada ratusan orang yang datang sedangkan hanya ada 30 perusahaan. Perbedaan antara lowongan kerja yang sedikit dan pencari kerja yang banyak ini menimbulkan persaingan yang tidak bisa dielakan, para pencari kerja harus mulai menyadari apakah modal awal untuk bisa diterima kerja. Padahal modal awal yang paling utama adalah diri sendiri.

Untuk menyadarkan para pencari kerja, ISF menghadirkan seorang Psikolog yang berpengalaman di bidang sumber daya manusia, Arum Etikaerina, M.Psi, Psikolog, CHRP. Dalam talkshow-nya wanita yang sudah menjadi dosen Universitas Indonesia selama 18 tahun ini mengatakan bahwa modal utama untuk masuk dalam persaingan pencarian kerja adalah kualitas diri, para pencari kerja harus mau belajar keahlian yang memang menunjang pekerjaan yang diidamkan.
Arum yang memang juga membantu perusahaan-perusahaan untuk menyeleksi calon pekerja mengatakan, “Jangan terpaku pada psikotes hal itu bukan yang utama, tapi ketika sesi wawancara harus bisa ‘menjual diri’ dan menampilkan sisi positif yang kita punya pada perusahaan. Everything can be learned. Perusahaan suka orang yang ingin tahu dan mau bekerja keras.”

Saat ditanya apa saja yang bisa dijual dari diri pencari kerja saat wawancara, Arum menjelaskan, “Kemampuan atau skill yang kita punya, pendidikan, pengalaman berorganisasi, dan magang.” Menurut Arum, magang merupakan kesempatan bagus yang ditawarkan oleh perusahaan agar pencari kerja diapat belajar dan menambah kompetensi pada dirinya. Apalagi bagi fresh graduate, memiliki pengalaman magang merupakan nilai tambah besar bagi perusahaan. Arum menambahkan, “Biasanya kalau perusahaan sering mengangkat anak magang menjadi karyawan tetap dari pada harus men-training ulang calon karyawan baru.”

Melihat pentingnya magang bagi calon pekerja, dalam bursa kerja di Plaza Depok ini ISF bukan hanya membuka recruitment untuk UKM saja, ISF sendiri sedang membuka kesempatan bagi para fresh graduate atau mahasiswa yang memiliki keinginan untuk belajar dan mengetahui bagaimana rasanya bekerja.

whatsapp-image-2016-11-29-at-13-44-37

“Memulai Usaha Bisa Lebih Sukses Dari Bekerja”

Mental orang Indonesia adalah mental pekerja, bisa dilihat dari banyaknya para pencari kerja yang datang ke Plaza Depok untuk mengikuti Bursa Kerja yang diselenggarakan oleh Disnaker Kota Depok yang bekerja sama dengan festivalnyarikerja.com pada tanggal 29-30 November 2016. Masih sedikit orang yang berpikiran untuk membuka bisnis untuk menciptakan peluang kerja dengan alasan memulai usaha sangatlah sulit.

ISF sengaja menghadirkan Deliyana Oktaviani seorang CEO dari usaha outdoor event PT Diva Insan Kreasi yang merasa bahwa perlu adanya penanaman pada diri para pencari kerja untuk menjadi seorang entrepreneur beginner. Pada sesi talkshow-nya Deliyana sempat bertanya pada pencari kerja kenapa lebih banyak orang yang memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan dan bukan membuat perusahaannya sendiri, padahal dengan membuat usaha sendiri akan bisa lebih sukses daripada bekerja pada orang lain.

Ada kerisauan tersendiri yang disampaikan oleh para pencari kerja yang datang, diantaranya: modal, kepercayaan diri, keahlian, konsep usaha, dan lain sebaginya. Banyak yang menjadi pertimbangan seseorang untuk memulai usaha. Tapi menurut Deliyana, kerisauan tadi bukanlah halangan untuk memulai, yang paling penting adalah mau memulai. “Jika belum memulai dan sudah takut untuk berbisnis maka tidak akan ada yang bisa dihasilkan.” Menurutnya, usaha yang dikerjakan secara tekun dan penuh kerja keras akan menghasilkan buah kesuksesan yang lebih besar dibanding dengan bekerja pada perusahaan.

Definisi sukses bagi Deliyani bukanlah diterima bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan besar, namun sudah memulai usaha yang memungkinkan membuka lapangan pekerjaan pula bagi orang banyak. Maka diharapkan para pencari kerja mulai beralih untuk membuat usaha yang bukan hanya berguna untuk dirinya sendiri juga akan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Setiap orang sudah familiar dengan bisnis meskipun baru sebagai konsumen, para pencari kerja yang belum menemukan pekerjaan yang sesuai diharapkan mau mengubah pola pikir menjadi seorang produsen, memulai usaha dari usaha kecil yang bisa dilakukan seorang diri menjadi usaha yang membutuhkan banyak karyawan. Dengan cara melihat peluang dan keahlian apa yang sudah dimliliki. Dengan lantang Dwiliana mengatakan, “Kalau sudah ada usaha, atau mau buka usaha, saya siap membantu.”

Bukan hanya Deliyana saja yang akan membantu, ISF yang memang memiliki misi untuk menyetarakan akses dan kesempatan berbisnis bagi usaha kecil menengah akan sangat senang jika ada pemuda yang membuka pikirannya untuk menjadi seorang pengusaha. Dengan demikian seharusnya para pencari kerja sadar bahwa ada tangan-tangan yang siap membantu untuk memulai bisnis,

whatsapp-image-2016-11-29-at-12-26-35

Bekerja di UKM Pun Bisa Sukses

Banyak pelamar kerja yang yang lebih memilih melamar ke perusahaan besar, berkali-kali mengirim lamaran tetapi tidak kunjung diterima. Hal ini seharusnya menimbulkan kesadaran bahwa keahlian dan bakatnya tidak cocok di sana, mungkin lebih cocok bekerja di UKM. “Tidak ada salahnya kok mencoba bekerja di UKM, masih bisa sukses bahkan bisa lebih sukses dari karyawan biasa.” kata Meswantri pada talkshow yang difasilitasi oleh ISF pada Selasa 29 Oktober 2016.

Untuk mengedukasi para pencari kerja, ISF menyelenggarakan talkshow melalui acara Bursa Kerja yang diselenggarakan oleh Disnaker Kota Depok yang bekerja sama dengen festivalnyarikerja.com. ISF menghadirkan seorang pembicara yang sudah berpengalaman, Meswantri ST., M.Si. M., MPM., CHRA., MCR., FAAPM seorang pakar talent maping yang sudah fasih melihat karakteristik seseorang dan kaitannya dengan pekerjaan yang dirasa cocok dengannya. Meswantri bahkan melakukan sesi konsultasi singkat di atas panggung yang disambut antusias oleh para pencari kerja, terlihat dari banyaknya pencari kerja yang mengajukan pertanyaan mengenai dirinya.

Dengan adanya talkshow ini, ISF menyadarkan para pencari kerja untuk menggali diri sebelum melamar pekerjaan, bakat apa yang mereka miliki. Sehingga akan mempermudaah para pekerja menemukan pekerjaan yang tepat dan pada pekerjaan yang memang sesuai minat dan bakatnya. Meswantri mengatakan bahwa bakat itu sangat penting, “Keahlian itu bisa dilatih, diasah, tapi bakat itu datangnya dari Allah, bakat itu sudah ada sejak lahir, tinggal bagaimana kita menyadarinya.”

Dalam talkshow ini Meswantri menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki IQ yang tinggi hanya 20% saja yang sukses dan 80% sukses dari bakat yang dimiliki, “Ada banyak pencarian bakat namun tidak ada pencarian orang pintar. Ada yang bertahun-tahun bekerja tapi tidak punya bakat dan suksesnya lama, tapi yang punya bakat dua-tiga tahun bekerja sudah punya banyak asset,” tambahnya dengan memberikan contoh riil.

ISF memiliki banyak UKM binaan yang membuka lowongan pekerjaan, pada acara Festival Nyari Kerja 2016 pun ISF membuka stand untuk membantu perekrutan karyawan bagi UKM agar sumber daya yang dibutuhkan UKM terpenuhi dan calon pekerja dapat tersalurkan sesuai minat dan bakatnya. Hal ini bisa menjadi batu loncatan bagi para pencari kerja untuk memulai bekerja di UKM sebagai pengalaman sebelum bekerja di perusahaan besar ditambah para pekerja juga bisa ikut mengembangan usaha dan menjadi win-win solution bagi calon pekerja juga UKM.

Selain usaha UKM yang dibina oleh ISF akan menjadi berkembang, calon pekerja bisa mendapatkan pengalaman bekerja sekaligus berbisnis, sehingga memungkinkan untuk memulai usaha yang baru, ISF dapat membatu untuk pemberdayaan usaha yang baru dirintis. memang diperlukan mental yang tangguh untuk menjadi pengusaha dan ISF akan membina mental para calon pekerja jadi mencari pekerjaan menjadi membuka lapangan pekerjaan, banyak yang dulu bekerja dan sekarang sudah punya perusahaan sendiri.